Banyak orang datang ke Bromo untuk sunrise dan lautan pasir, lalu pulang tanpa benar-benar tahu siapa yang menjaga kawasan ini selama ratusan tahun. Padahal, yang membuat Bromo berbeda dari gunung wisata lain bukan cuma lanskapnya, tapi masyarakat yang tinggal di sekelilingnya: Suku Tengger.
Mereka hidup di ketinggian yang dingin, bertani di lereng terjal, dan sampai hari ini masih memeluk kepercayaan yang jarang ditemukan di tempat lain di Jawa. Buat kamu yang ingin lebih dari sekadar foto, memahami budaya Tengger akan membuat kunjunganmu ke Bromo terasa jauh lebih bermakna.
Artikel ini melengkapi pembahasan di mengenal Gunung Bromo, kali ini fokus ke manusia dan tradisinya, bukan gunungnya.
Asal-usul Nama “Tengger” dan Legenda Roro Anteng–Joko Seger
Nama Tengger dipercaya berasal dari gabungan dua nama: Roro An-TENG dan Joko Se-GER, sepasang leluhur yang dalam cerita rakyat menjadi cikal bakal masyarakat di kawasan ini. Roro Anteng adalah putri seorang raja Majapahit, sementara Joko Seger berasal dari kalangan brahmana. Keduanya menikah dan membuka permukiman di dataran tinggi sekitar Bromo.
Ada versi lain yang mengaitkan kata “tengger” dengan makna “berdiri tegak” atau “tenang” dalam bahasa Jawa kuno, menggambarkan karakter masyarakat gunung yang teguh dan tidak banyak menuntut. Apa pun versinya, benang merahnya sama: identitas Tengger sudah terbentuk sejak era peralihan Majapahit, jauh sebelum Bromo dikenal sebagai destinasi wisata.
Warisan Majapahit: Kenapa Tengger Tetap Hindu
Ini bagian yang paling sering membuat wisatawan penasaran. Saat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa runtuh dan Islam menyebar luas, sebagian masyarakat pendukung Majapahit memilih mundur ke pegunungan untuk mempertahankan kepercayaan mereka. Kawasan Tengger yang terpencil dan sulit dijangkau menjadi salah satu tempat perlindungan itu.
Karena itulah, sampai sekarang mayoritas orang Tengger memeluk Hindu Tengger, sering juga disebut Hindu Jawa atau Buda Tengger. Ini corak Hindu warisan Majapahit yang berbaur dengan unsur Buddha dan pemujaan leluhur, sehingga berbeda dari Hindu Dharma Bali. Mereka tidak mengenal sistem kasta yang kaku, tetap dekat dengan tradisi Jawa kuno, dan menempatkan pemimpin spiritual bernama Dukun Pandita sebagai figur penting dalam setiap ritual.
Bromo sendiri diperlakukan sebagai gunung suci. Di kaki kawah berdiri Pura Luhur Poten, pura yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Tengger. Jadi saat kamu berdiri di lautan pasir memandang kawah, kamu sebenarnya sedang berada di tengah lanskap spiritual yang hidup, bukan sekadar objek foto.

Yadnya Kasada: Ritual yang Membuat Bromo Istimewa
Kalau ada satu tradisi yang wajib kamu tahu, itu adalah Yadnya Kasada (sering ditulis Kasodo). Ini upacara tahunan terbesar masyarakat Tengger, digelar pada hari ke-14 bulan Kasada dalam penanggalan Tengger, biasanya jatuh sekitar bulan Juli–Agustus.
Puncak ritualnya sederhana tapi menggetarkan: warga dari berbagai desa berjalan menuju kawah Bromo, membawa hasil bumi, ternak, dan berbagai persembahan, lalu melarungkannya ke dalam kawah sebagai bentuk syukur dan penghormatan.
Legenda di Balik Kasada
Tradisi ini berakar pada legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang lama tidak dikaruniai anak. Mereka bersemadi dan berjanji: bila diberi keturunan, anak bungsu mereka akan dipersembahkan kepada Sang Hyang di kawah Bromo. Setelah dikaruniai 25 anak, janji itu sempat diingkari, hingga akhirnya sang anak bungsu, Raden Kusuma, merelakan dirinya masuk ke kawah demi keselamatan saudara-saudaranya. Sebelum “menghilang”, ia berpesan agar keturunan Tengger selalu mengadakan persembahan di Bromo setiap tahun. Dari sanalah Kasada lahir dan bertahan sampai hari ini.
Etika Kalau Kamu Ingin Menyaksikan
- Datang sebagai tamu, bukan pusat perhatian. Ini ritual keagamaan, bukan pertunjukan wisata.
- Jaga jarak dan izin sebelum memotret wajah warga atau prosesi dari dekat.
- Ikuti arahan panitia dan Dukun Pandita. Ada area dan momen tertentu yang tidak untuk wisatawan.
Kalau kamu ingin merencanakan kunjungan yang bertepatan dengan Kasada, komunikasikan sejak awal ke operator karena kawasan akan jauh lebih ramai. Paket Wisata Bromo bisa membantu mengatur waktu dan logistiknya.
Kehidupan Sehari-hari Orang Tengger
Di luar ritual, orang Tengger dikenal sebagai petani dataran tinggi yang ulet. Lereng-lereng curam di sekitar Bromo mereka olah menjadi ladang sayur: kentang, kubis, bawang prei, dan wortel adalah komoditas utama. Suhu dingin yang bagi wisatawan terasa menyiksa justru menjadi berkah bagi tanaman-tanaman ini.
Desa-desa seperti Ngadisari, Cemoro Lawang, dan Wonokitri menjadi gerbang utama menuju Bromo sekaligus tempat tinggal masyarakat Tengger. Ranupani (desa Tengger tertinggi yang menjadi gerbang pendakian Gunung Semeru) juga bagian dari komunitas ini. Rumah-rumah mereka biasanya tertutup rapat dengan tungku untuk menghangatkan ruangan, dan kehidupan dimulai sangat pagi, jauh sebelum rombongan wisatawan berangkat mengejar sunrise.
Satu hal yang sering dipuji wisatawan: karakter orang Tengger yang jujur dan ramah. Banyak driver jeep dan pemandu lokal berasal dari komunitas ini, dan pengetahuan mereka soal medan serta cuaca kawasan sulit ditandingi. Soal pengalaman menyusuri kawasan bersama mereka, ada banyak detail lapangan di naik jeep Bromo: 8 hal yang jarang diceritakan guide.
Menghormati Budaya Tengger Saat Berwisata
Wisata yang baik adalah wisata yang tidak merusak apa yang membuatnya indah. Beberapa hal sederhana yang bisa kamu lakukan:
- Jangan buang sampah di lautan pasir atau kawah: ini kawasan yang mereka anggap suci.
- Hormati pura dan area ritual; jangan naik ke tempat yang dibatasi.
- Beli produk dan jasa lokal (sayur, jasa jeep, penginapan warga) agar manfaat wisata kembali ke masyarakat.
- Bertanya dengan sopan. Orang Tengger umumnya terbuka bercerita soal tradisinya kalau kamu tulus ingin tahu.
Memahami ini membuat pengalamanmu berbeda: kamu tidak hanya “mengunjungi Bromo”, tapi juga menghargai komunitas yang menjaganya tetap hidup dan bermakna.
Lihat juga: Ingin menikmati sunrise setelah memahami sisi budayanya? Baca sunrise Bromo, atau lihat pilihan rute lengkap di Paket Wisata Bromo.
FAQ Seputar Suku Tengger
Apa agama mayoritas Suku Tengger?
Hindu Tengger (disebut juga Hindu Jawa atau Buda Tengger), corak Hindu warisan Majapahit bercampur unsur Buddha dan pemujaan leluhur, berbeda dari Hindu Dharma Bali.
Kapan upacara Yadnya Kasada digelar?
Pada hari ke-14 bulan Kasada penanggalan Tengger, biasanya sekitar Juli–Agustus setiap tahun.
Apa arti nama "Tengger"?
Dipercaya berasal dari nama leluhur Roro An-TENG dan Joko Se-GER, juga dikaitkan dengan makna "tegak/tenang".
Bolehkah wisatawan menyaksikan Kasada?
Boleh, selama menghormati aturan: jaga jarak, minta izin sebelum memotret, dan ikuti arahan panitia.
Di mana masyarakat Tengger tinggal?
Di desa-desa dataran tinggi seperti Ngadisari, Cemoro Lawang, Wonokitri, dan Ranupani di kawasan Bromo Tengger Semeru.
Ingin Trip Bromo yang Juga Kaya Cerita, Bukan Sekadar Foto?
Kami bisa susunkan perjalanan Bromo yang memberi ruang untuk memahami budayanya: dari sunrise, lautan pasir, sampai konteks Tengger yang membuat semuanya lebih bermakna.